Minggu, 25 Desember 2011

Review Psikologi Umum

1. Fantasi
Fantasi adalah kemampuan manusia di dalam membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan fantasi inividu akan mampu melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan. Ke keadaan-keadaan yang akan mendatang. Fantasi dapat terjadi secara:
1. Disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya. Misalnya seorang pelukis dan seorang pemahat yang sedang memikirkan untuk menciptakan sesuatu yang baru atas dasar fantasinya.
2. Secara tidak sadar, individu tidak menyadari jika ia telah dituntut untuk berfantasi. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak.
Dilihat dari segi munculnya fantasi dapat dibedakan ke dalam dua hal, yaitu fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dituntun atau yang dipimpin.
Fantasi yang menciptakan, yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasi yang menciptakan sesuatu; misalnya seorang desainer menciptakan pakaian atas dasar daya fantasinya.
Fantasi yang dituntut atau dipimpin, yaitu jenis fantasi yang munculnya adalah karena dituntun oleh pihak lain. Misalnya, seorang yang sedang menonton film dapat berfantasi mengikuti alur cerita yang ditontonnya.
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan jiwa yang lain lebih bersifat subjektif. Dalam hal individu berfantasi bayangan-bayangan atau tanggapan-tangapan yang telah ada pada diri inidividu sangat berperan penting. Bayangan persepsi berebda dengan bayangan fantasi. Bayangan persepsi berasal dari persepsi sedangkan bayangan fantasi dari fantasi.
Dengan berfantasi seseorang akan dapat mempunyai ide-ide baru yang terkadang di luar jangkauan akal sehat. Dengan berfantasi seseorang terkadang menjadi lebih kreatif. Namun fantasi juga mempunyai keburukan, yaitu akan membuat inividu meninggalkan alam nyata, dan masuk ke dalam alam fantasi. Fantasi juga dapat menimbulkan takhayul dan kedustaan jika tidak terkontrol.

2. Ingatan
Ingatan atau memori merupakan hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Dengan kata lain ingatan adalah kemampuan manusia di dalam memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang lampau.
Fungsi memasukkan (learning)
Bagaimana seseorang memperoleh pengalaman dapat dibedakan ke dalam dua cara, yaitu:
1. Dengan cara tidak sengaja. Yaitu apa yang dialami oleh individu dengan tidak sengaja dimasukkan ke dalam ingatannya. Contohnya pada anak-anak, bagaimana anak mengetahui bahwa gelas jika jatuh pecah. Hal ini diingat anak karena pengalamannya yang tidak sengaja pernah memecahkan gelas.
2. Dengan cara sengaja. Yaitu individu sengaja memasukkan pengelaman-pengalaman atau pengetahuan-pengetahuan. Misalnya seorang siswa yang dengan sengaja belajar untuk memahami dan mengingat pelajaran tertentu.
Individu berbeda di dalam mempelajari atau memasukkan materi. Ada inidvidu yang mempunyai ingatan luas, yaitu individu yang mampu menyimpan banyak materi pada suatu waktu tertentu, dan ada pula individu yang mempunyai ingatan yang sempit yaitu individu yang hanya mampu mempelajari atau memasukkan materi yang sedikit pada suatu waktu.
Fungsi menyimpan (retention)
Fungsi ini adalah bagaimana agar pengetahuan yang telah dipelajari atau yang telah dimasukkan itu dapat disimpan dengan baik. Sehingga pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali apabila dibutuhkan.
Sehubungan dengan masalah retensi ini juga muncul masalah kelupaan dan kedua hal ini sangat erat hubungannya dengan masalha interval atau jarak waktu antara memasukkan atau mempelajari sesuatu dan menimbulkan kembali apa yang dipelajari itu.


Mengenai interval dapat dibedakan antara:
1. Lama interval, yaitu berkaitan dengan lamanya waktu antara waktu pemasukan bahan sampai ditimbulkan kembali bahan itu. Lama interval berhubungan dengan kekuatan retensi. Makin lama intervalnya, makin kurang kuat retensinya, atau dengan kata lain kekuatan retensinya menurun.
2. Isi interval, yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang terdapat atau menngisi interval. Aktivitas-aktivitas yang mengisi interval akan merusak atau menggangu ingatan, sehingga kemungkinan individu mengalami kelupaan.
Fungsi menimbulkan kembali
Dalam menimbulkan kembali apa yang disimpan dalam ingatan dapat ditempuh dengan mengingat kembali, dan mengenal kembali.
Pada mengingat kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat tanpa dibantu adanya objek sebagai stimulus untuk dapat diingat kembali. Jadi dalam hal mengingat kembali individu tidak dibantu dengan adanya objek. Misalnya individu dapat mengingat kembali tentang ciri-ciri penjambret yang menjambret tasnya, sekalipun penjabretnya sudah tidak ada.
Pada mengenal kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat atau yang telah pernah dipelajari dengan bantuan adanya objek yang harus diingat. Misalnya ada motor yang hilang dan motor tersebut telah diketemukan polisi, dan barang siapa yang motornya hilang harus melihat apakah motor tersebut miliknya atau bukan.
Karena dibantu oleh objek maka mengenal kembali akan lebih mudah dari pada mengingat kembali.
3. Belajar
Belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Ada beberapa hal yang perlu diketahui ketika kita mendengar istilah belajar, yaitu:
1. Belajar merupakan suatu proses, yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku. Artinya setelah belajar individu mengalami perubahan dalam perilakunya.
2. Perubahan perilaku tersebut dapat actual, yaitu yang nampak, tetapi dapat juga bersifat potensial, yang tidak tampak pada saat itu, tetapi akan nampak di lain kesempatan.
3. Perubahan yang disebabkan karena belajar bersifat relative permanent, yang artinya perubahan tersebut akan bertahan dalam waktu yang relative lama. Tetapi perubahan tersebut tetap dapat berubah lagi sebagai akibat dari belajar.
4. Perubahan perilaku baik yang actual maupun potensial merupakan hasil belajar, merupakan perubahan yang melalui pengalaman atau latihan.
Berdasarkan empat hal di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses. Prosesnya sendiri tidak tampak, yang tampak adalah hasil dari proses tersebut. Karena belajar merupakan suatu proses, maka dalam belajar ada masukan, yaitu yang akan diproses dan ada hasil dari proses tersebut.
4. Berfikir
Berfikir adalah aktifitas kognitif yang berujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan symbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya. Pendapat ini merupakan pendapat dari aliran kognitif. Sedangkan aliran Behaviorisme khususnya fungsionalis berpendapat bahwa berfikir adalah suatu hasil perbuatan sebagai penguatan dari stimulus dan respon.
Salah satu sifat berfikir adalah goal directed yaitu berfikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah atau untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Misalnya ketika seseorang ingin membeli televisi pasti sebelumnya pemilik toko akan menawarkan beberapa macam merk dengan berbagai macam harga. Sebelum pembeli memutuskan untuk membeli tentunya dia akan mempertimbangkan semua masukan dan pengalaman yang telah ia dapatkan kemudian baru memilih televisi mana yang akan dibeli.
5. Intelegensi
Secara umum hakekat intelegensi adalah:
- Kemampuan memahami sesuatu, makin tinggi intelegensi seseorang maka akan cepat dia memahami, menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan.
- Kemampuan berpendapat, makin cerdas seseorang, maka makin cepat pula mengambil ide dan langkah untuk penyelesaian masalah.
- Kemampuan control dan kritik, makin cerdas seseorang, maka makin tinggi pula daya control dan kritiknya terhadap apa yang diperbuat.
Terdapat dua pendekatan yang pokok di dalam memahami intelegensi. Yaitu:
1. Pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensi yang sering disebut dengan pendekatan faktor atau teori faktor. Menurutal itu sendiri, Spearman intelegensi itu mengandung dua macam faktor, yaitu (1). general ability atau general faktor (faktor G) dan (2). Special ability atau special faktor (faktor S)
2. Pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (Process-oriented theories). Teori ini mendasarkan kepada bagaimana proses intelektual di dalam pemecahan masalah.

6. Perasaan dan Emosi
Perasaan dan emosi umumnya disifatkan sebagai keadaan yang ada pada individu pada suatu waktu. Misalnya seseorang merasa senang, sedih, takut, marah ataupun gejal-gejala yang lain setelah melihat, mendengar atau merasakan sesuatu. Menurut Chaplin (1972) perasaan adalah keadaan individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Sedangkan emosi adalah reaksi yang komplek yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Emosi lebih sering terjadi daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku bahkan hubungan dengan lingkungan kadang-kadang ikut terganggu.
Ada tiga sifat yang berhubungan dengan perasaan, yaitu:
1. Pada umumnya perasaan berkaitan dengan persepsi, dan merupakan reaksi terhadap stimulus yang mengenainya.
2. Perasaan besifat subjektif. Sehingga stimulus yang sama dapat mneimbulkan perasaan yang berbeda-beda pada individu yang dikenai stimulus tersebut.
3. Perasaan yang dialami inidvidu adalah perasaan senang dan tidak senang, namun tingkatannya dapat berbeda-beda.
Jika keadaan perasaan telah begitu kuat hingga hubungan dengan sekitar terganggu, hal telah menyangkut masalah emosi. Dalam keadaan emosi umumnya individu telah dipengaruhi sedemikian rupa sehingga individu kurang dapat menguasai diri lagi. Seseorang yang sedang mengalami emosi tidak lagi memperhatikan keadaan sekitar. Seringkali orang yang sedang emosi dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin dapat ia lakukan dalam keadaan normal.
Namun terkadang masih ada individu yang mampu mengontrol emosinya sehingga tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tertentu. Hal ini dikenal dengan istilah display rules artinya dalam hal mengendalikan emosi seorang individu dapat melakukan masking, modulation, dan simulation.
Masking, adalah keadaan seseroang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Artinya individu tersebut dalam keadaan emosi namun mampu menutupi atau menghambat emosi tersebut untuk keluar sehingga memberi perubahan dalam perilaku maupun melalui ekspresi kejasmanian. Contoh; seseorang yang mampu menyembunyikan kesedihannya setelah ditinggal oleh orang yang dicintai.
Modulation, adalah keadaan dimana individu tidak dapat secara tuntas meredam emosi dengan gejala kejasmaniannya, tetapi hanya mengurangi saja. Misalnya ketika sedih individu menangis (gejala kejasmanian) namun tangisnya tidak berlebihan.
Simulation, adalah keadaan inividu yang berpura-pura mengalami emosi dengan menampakkan gejala kejasmanian. Menurut Ekman dan Friesen (Carlson, 1987) mengenai display rules ini sangat dipengaruhi oleh budaya dimana individu tinggal.
7. Motif
Dorongan yang datang dari dalam diri inidvidu sehingga individu berprilaku disebut dengan motif. Motif berasal dari bahasa latin Movere yang berarti bergerak atau to move. (Branca, 1964). Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat di dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force. Beberapa hal yang ada di dalam motif antara lain:
1. Motif dimulai dengan sesuatu perbuatan tenaga dalam diri seseorang
2. Motif ditandai dengan dorongan afektif
3. Motif ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan. (Totok, 2001)
Motif sebagai pendorong tidak dapat berdiri sendiri, terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi motif. Faktor tersebut disebut dengan motivasi. Motivasi merupakan keadaan dari dalam diri individu yang mendorong perilaku kearah tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa motivasi mempunyai 3 aspek, yaitu:
1. Keadaan terdorong dalam diri individu, yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan.
2. Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini.
3. goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.
Pada umumnya motivasi mempunyai siklus melingkar, yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai motivasi berhenti. Tetapi akan kembali kekeadaan semula apabila ada sesuatu kebutuhan lagi.
Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada tahap pertama munculah keadaan pemicu (driving state). Dorongan ini muncul biasanya adalah karena berdasarkan kebutuhan biologis atau fisiologis. Drive ini timbul dapat karena organisme merasa kekurangan dalam kebutuhan (needs). Misalnya orang kurang tidur, maka ia butuh tidur, dan kebutuhan inilah yang mendorong ia untuk tidur.
Macam-macam motif:
1. Motif fisiologis.
Motif ini biasanya berakar pada keadaan jasmani, misalnya dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan udara segar. Motif ini disebut juga motif dasar karena berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensi individu sebagai makhluk hidup.
2. Motif social
Motif social merupakan motif yang kompleks dan merupakan sumber dari banyak perilaku atau perbuatan manusia. Dikatakan social karena motif ini dipelajari dalam kelompok social.
3. Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi
Motif eksplorasi adalah berkaitan dengan keinginan individu untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan. Motif kompetensi berkaitan dengan keinginan individu untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya dengan efektif. Sedangkan motif self aktualisasi adalah berkaitan dengan seberapa jauh individu bertindak atau berbuat untuk mengaktualisasikan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar