Minggu, 25 Desember 2011

Review Psikologi Sosial

1. Persepsi Diri
• Dalam Psikologi Umum yang dimaksud dengan persepsi adalah suatu proses dimana stimulus yang diindera oleh individu dikumpulkan, kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera. (Davidoff, 1981).
• Persepsi Diri adalah: Pendapat pribadi individu terhadap lingkungannya sebagai hasil dari pemahaman individu terhadap stimulus yang diinderanya.
• Persepsi diri merupakan suatu proses meninterpretasikan objek eksternal yang ditangkap melalui indera sehingga proses tersebut kurang akurat dalam memberikan makna terhadap dirinya yang akan mempengaruhi hubungan interpersonal. Karena di dalam menjalin hubungan interpersonal tidak cukup hanya memaknai dirinya secara eksternal tetapi butuh proses yang lebih lanjut yaitu adalah proses evaluasi diri yang akan membentuk rasa percaya diri seseorang dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
• Ada dua pandangan yang bertentangan tentang bagaimana seseorang mempersepsi orang lain, yaitu: pendekatan Belajar dan pendekatan Gestalt. Pendekatan Belajar menyamaratakan informasi secara mekanis. Sedangkan pendekatan Gestalt membuat seseorang membentuk kesan yang lebih melekat dan berarti.
2. Atribusi Sosial
• Teori atribusi mengupas bagaimana manusia biasa menjelaskan peristiwa-peristiwa social. Atribusi sebab-akibat yang paling umum menjelaskan perilaku internal dan eksternal seseorang, stabil atau tidak stabil, dan dapat dikendalikan ataui tidak.
• Atribusi adalah pandangan individu terhadap sesuatu hal secara lebih mendalam berhubungan dengan sebab akibat kenapa seseorang tersebut berperilaku seperti itu.
• Teori Kelley menyatakan bahwa manusia mendasarkan atribusinya kepada 3 jenis informasi, yaitu: kejelasan (apakah situasi ini adalah satu-satunya situasi dimana individu melakukan hal tersebut), consensus (apakah orang lain melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama), konsistensi (apakah individu tersebut sering melakukan hal tesebut dalam situasi seperti ini).
• Atribusi social juga penting untuk melakukan hubungan interpersonal. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa orang lebih siap menjelaskan pengalaman sukses melalui atribusi internal dan kegagalan disebabkan factor eksternal.


3. Sikap
• Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu” tersebut bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok.
• Jika yang muncul adalah perasaan senang maka disebut sikap positif
• Jika Perasaan yang tidak senang disebut sikap negative
• Sikap dibagi ke dalam 3 domain:
• Affect adalah perasaan yang timbul, senang dan tidak senang.
• Behaviour, perilaku yang muncul mendekat atau menghindar
• Cognition, penilaian terhadap objek sikap, bagus atau tidak bagus
• Manusia bisa mempunyai bermacam-macam sikap terhadap satu objek
4. Hubungan Interpersonal
• Hubungan Interpersonal adalah bagaimana kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain melalui hubungan tatap muka yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dalam kegiatan itu terjadi suatu proses psikologis yang bisa merubah sikap, pendapat, atau perilaku orang yang sedang melakukan interaksi tersebut.
• Menurut William C. Schultz ada tiga dimensi hubungan interpersonal, yaitu:
1. Need of inclusion (perasaan sebagai anggota dari suatu kelompok), keinginan untuk menumbuhkan rasa memiliki.
* Undersocial: misalnya, minder, menarik diri, tertutup.
* Social : misalnya, tahu situasi dan kondisi.
* Oversocial : misalnya, over akting.
2. Need of control (kebutuhan untuk mendominasi dan dominasi)
* Abdicrat : ciri-cirinya penurut.
* Democrat : ciri-cirinya memiliki kemampuan yang kuat.
* Autocrat : ciri-cirinya mendominasi suatu kelompok.
3. Need of affection (kasih sayang), kebutuhan untuk menyukai dan disukai.
* Underpersonal : membuat jarak dengan orang lain, menolak bantuan orang lain.
* Personal : independent, tidak bergantung pada orang lain.
* Overpersonal : kerjasama individu yang kuat dengan orang lain.
• Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
• A. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
• B. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
• C. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
• Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
• D. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
5. Agresi dan Altruisme
• Agresi didefinisikan sebagai tindakan yang melukai orang lain.
• Tindakan agresif bisa antisocial, prososial, atau sekedar disetujui tergantung pada apakah tindakan itu bertentangan atau sejalan dengan norma social.
• Perasaan agresif atau rasa marah berbeda dengan perilaku agresif. Factor penentu rasa marah yang utama adalah serangan dan frustasi
• Teknik-teknik untuk mengurangi perilaku agresif:
- Hukuman dan pembalasan
Pemberian hukuman dan pembalasan bisa mengurangi terjadinya perilaku agresif. Namun, harus dilihat juga pada siapa dan kapan hukuman dan pembalasan ini diberikan, karena terbukti anak yang sering mendapat hukuman karena perilaku agresifnya akan menjadi lebih agresif. Hukuman dan pembalasan hanya efektif dilakukan dalam waktu sementara.
- Mengurangi Frustasi
Tekhnik ini dinilai lebih baik, yaitu dengan cara mengurangi kemungkinan terjadinya serangan dan frustasi. Menyamaratakan perlakuan adalah salah satu caranya.
- Hambatan yang dipelajari
Dengan cara mengontrol diri sendiri, mengendalikan perilaku agresif kita sendiri tanpa memperdulikan apakah kita di ancam akan dihukum atau tidak.
- Pengalihan
Mengekspresikan agresi terhadap sasaran pengganti. Pengen memukul seseorang dialihkan dengan memukul batang pisang.
- Katarsis
“pembersihan” atau pelepasan energy. Jika anda merasa agresif pelepasan terhadap keinginan tersebut dapat mengurangi intensitas perasaan. Marah terhadap seseorang yang mengklakson anda, kemudian ketika di lampu merah anda berada di belakang orang tersebut lalu anda balik mengklakson dapat mengurangi perasaan agresif.
• Altruisme dan perilaku prososial.
• Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan)
• Perilaku Prososial, mencakup perilaku yang lebih luas meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Beberapa perilaku prososial bukan merupakan tindakan altruistik.
• Para pakar sosiobiologi yakin bahwa kecenderungan untuk menolong orang lain merupakan bagian dari susunan biologis manusia. Sebaliknya, pandangan evolusi social menyatakan bahwa masyarkat menciptakan aturan tentang pemberian bantuan, yang meliputi norma tanggung jawab social, prinsip timbale balik, dan keadilan sosial.
• Anak mempelajari norma pemberian bantuan melalui penguatan dan peniruan. Mekanisme belajar sosial ini juga mempengaruhi perilaku pro sosial orang dewasa.
• Keputusan untuk menolong merupakan proses yang rumit. Orang yang akan menolong harus mempersepsi dibutuhkannya pertolongan, memikul tanggung jawab pribadi, mempertimbangkan untung rugi, dan memutuskan cara turun tangan.
6. Dinamika Kelompok
• Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
• Fungsi dinamika kelompok: membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup, memudahkan pekerjaan, mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban kerja yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai dengan kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian, dna terakhir menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan bermasyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.
• Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial serta ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada.
• Macam-Macam Kelompok
• Kelompok Primer, Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain.
• Kelompok Sekunder, Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.
• Kelompok Formal, Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.
• Kelompok Informal,Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati Misalnya: kelompok arisan
• Ciri-Ciri Kelompok: Suatu kelompok dapat dinamakan kelompok sosial, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama), 2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat). 3.Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing. 4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
• Pembentukan Kelompok, Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok. Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik) Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
• Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok. Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut .1. Kelebihan Kelompok, Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain. 2. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.
• Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

7. Konflik
• Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
• Konflik dalam psikologi terjadi karena adanya motif-motif yang saling bertentangan. Ada 3 macam konflik: konflik mendekat-mendekat, konflik menjauh-menjauh, konflik mendekat-menjauh.
• Mengatasi konflik yang biasanya dapat berujung frustasi adalah: Bertindak eksplodif, melakukan kompensasi, dengan cara introsveksi, sublimasi, reaksi psikopatis (adalah reaksi individu yang sengaja melanggar aturan-aturan yang ada dalam mengatasi frustasinya), simbolisasi (mengalihkan keinginan dengan hal-hal yang dianggap mampu menghilangkan frustasi.benda-benda ini disebut dengan subsitusi. Orang yang gak bisa merokok menggit-gigit korek)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar