Selasa, 24 Januari 2012
Minggu, 25 Desember 2011
Review Psikologi Umum
1. Fantasi
Fantasi adalah kemampuan manusia di dalam membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan fantasi inividu akan mampu melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan. Ke keadaan-keadaan yang akan mendatang. Fantasi dapat terjadi secara:
1. Disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya. Misalnya seorang pelukis dan seorang pemahat yang sedang memikirkan untuk menciptakan sesuatu yang baru atas dasar fantasinya.
2. Secara tidak sadar, individu tidak menyadari jika ia telah dituntut untuk berfantasi. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak.
Dilihat dari segi munculnya fantasi dapat dibedakan ke dalam dua hal, yaitu fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dituntun atau yang dipimpin.
Fantasi yang menciptakan, yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasi yang menciptakan sesuatu; misalnya seorang desainer menciptakan pakaian atas dasar daya fantasinya.
Fantasi yang dituntut atau dipimpin, yaitu jenis fantasi yang munculnya adalah karena dituntun oleh pihak lain. Misalnya, seorang yang sedang menonton film dapat berfantasi mengikuti alur cerita yang ditontonnya.
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan jiwa yang lain lebih bersifat subjektif. Dalam hal individu berfantasi bayangan-bayangan atau tanggapan-tangapan yang telah ada pada diri inidividu sangat berperan penting. Bayangan persepsi berebda dengan bayangan fantasi. Bayangan persepsi berasal dari persepsi sedangkan bayangan fantasi dari fantasi.
Dengan berfantasi seseorang akan dapat mempunyai ide-ide baru yang terkadang di luar jangkauan akal sehat. Dengan berfantasi seseorang terkadang menjadi lebih kreatif. Namun fantasi juga mempunyai keburukan, yaitu akan membuat inividu meninggalkan alam nyata, dan masuk ke dalam alam fantasi. Fantasi juga dapat menimbulkan takhayul dan kedustaan jika tidak terkontrol.
2. Ingatan
Ingatan atau memori merupakan hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Dengan kata lain ingatan adalah kemampuan manusia di dalam memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang lampau.
Fungsi memasukkan (learning)
Bagaimana seseorang memperoleh pengalaman dapat dibedakan ke dalam dua cara, yaitu:
1. Dengan cara tidak sengaja. Yaitu apa yang dialami oleh individu dengan tidak sengaja dimasukkan ke dalam ingatannya. Contohnya pada anak-anak, bagaimana anak mengetahui bahwa gelas jika jatuh pecah. Hal ini diingat anak karena pengalamannya yang tidak sengaja pernah memecahkan gelas.
2. Dengan cara sengaja. Yaitu individu sengaja memasukkan pengelaman-pengalaman atau pengetahuan-pengetahuan. Misalnya seorang siswa yang dengan sengaja belajar untuk memahami dan mengingat pelajaran tertentu.
Individu berbeda di dalam mempelajari atau memasukkan materi. Ada inidvidu yang mempunyai ingatan luas, yaitu individu yang mampu menyimpan banyak materi pada suatu waktu tertentu, dan ada pula individu yang mempunyai ingatan yang sempit yaitu individu yang hanya mampu mempelajari atau memasukkan materi yang sedikit pada suatu waktu.
Fungsi menyimpan (retention)
Fungsi ini adalah bagaimana agar pengetahuan yang telah dipelajari atau yang telah dimasukkan itu dapat disimpan dengan baik. Sehingga pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali apabila dibutuhkan.
Sehubungan dengan masalah retensi ini juga muncul masalah kelupaan dan kedua hal ini sangat erat hubungannya dengan masalha interval atau jarak waktu antara memasukkan atau mempelajari sesuatu dan menimbulkan kembali apa yang dipelajari itu.
Mengenai interval dapat dibedakan antara:
1. Lama interval, yaitu berkaitan dengan lamanya waktu antara waktu pemasukan bahan sampai ditimbulkan kembali bahan itu. Lama interval berhubungan dengan kekuatan retensi. Makin lama intervalnya, makin kurang kuat retensinya, atau dengan kata lain kekuatan retensinya menurun.
2. Isi interval, yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang terdapat atau menngisi interval. Aktivitas-aktivitas yang mengisi interval akan merusak atau menggangu ingatan, sehingga kemungkinan individu mengalami kelupaan.
Fungsi menimbulkan kembali
Dalam menimbulkan kembali apa yang disimpan dalam ingatan dapat ditempuh dengan mengingat kembali, dan mengenal kembali.
Pada mengingat kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat tanpa dibantu adanya objek sebagai stimulus untuk dapat diingat kembali. Jadi dalam hal mengingat kembali individu tidak dibantu dengan adanya objek. Misalnya individu dapat mengingat kembali tentang ciri-ciri penjambret yang menjambret tasnya, sekalipun penjabretnya sudah tidak ada.
Pada mengenal kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat atau yang telah pernah dipelajari dengan bantuan adanya objek yang harus diingat. Misalnya ada motor yang hilang dan motor tersebut telah diketemukan polisi, dan barang siapa yang motornya hilang harus melihat apakah motor tersebut miliknya atau bukan.
Karena dibantu oleh objek maka mengenal kembali akan lebih mudah dari pada mengingat kembali.
3. Belajar
Belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Ada beberapa hal yang perlu diketahui ketika kita mendengar istilah belajar, yaitu:
1. Belajar merupakan suatu proses, yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku. Artinya setelah belajar individu mengalami perubahan dalam perilakunya.
2. Perubahan perilaku tersebut dapat actual, yaitu yang nampak, tetapi dapat juga bersifat potensial, yang tidak tampak pada saat itu, tetapi akan nampak di lain kesempatan.
3. Perubahan yang disebabkan karena belajar bersifat relative permanent, yang artinya perubahan tersebut akan bertahan dalam waktu yang relative lama. Tetapi perubahan tersebut tetap dapat berubah lagi sebagai akibat dari belajar.
4. Perubahan perilaku baik yang actual maupun potensial merupakan hasil belajar, merupakan perubahan yang melalui pengalaman atau latihan.
Berdasarkan empat hal di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses. Prosesnya sendiri tidak tampak, yang tampak adalah hasil dari proses tersebut. Karena belajar merupakan suatu proses, maka dalam belajar ada masukan, yaitu yang akan diproses dan ada hasil dari proses tersebut.
4. Berfikir
Berfikir adalah aktifitas kognitif yang berujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan symbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya. Pendapat ini merupakan pendapat dari aliran kognitif. Sedangkan aliran Behaviorisme khususnya fungsionalis berpendapat bahwa berfikir adalah suatu hasil perbuatan sebagai penguatan dari stimulus dan respon.
Salah satu sifat berfikir adalah goal directed yaitu berfikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah atau untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Misalnya ketika seseorang ingin membeli televisi pasti sebelumnya pemilik toko akan menawarkan beberapa macam merk dengan berbagai macam harga. Sebelum pembeli memutuskan untuk membeli tentunya dia akan mempertimbangkan semua masukan dan pengalaman yang telah ia dapatkan kemudian baru memilih televisi mana yang akan dibeli.
5. Intelegensi
Secara umum hakekat intelegensi adalah:
- Kemampuan memahami sesuatu, makin tinggi intelegensi seseorang maka akan cepat dia memahami, menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan.
- Kemampuan berpendapat, makin cerdas seseorang, maka makin cepat pula mengambil ide dan langkah untuk penyelesaian masalah.
- Kemampuan control dan kritik, makin cerdas seseorang, maka makin tinggi pula daya control dan kritiknya terhadap apa yang diperbuat.
Terdapat dua pendekatan yang pokok di dalam memahami intelegensi. Yaitu:
1. Pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensi yang sering disebut dengan pendekatan faktor atau teori faktor. Menurutal itu sendiri, Spearman intelegensi itu mengandung dua macam faktor, yaitu (1). general ability atau general faktor (faktor G) dan (2). Special ability atau special faktor (faktor S)
2. Pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (Process-oriented theories). Teori ini mendasarkan kepada bagaimana proses intelektual di dalam pemecahan masalah.
6. Perasaan dan Emosi
Perasaan dan emosi umumnya disifatkan sebagai keadaan yang ada pada individu pada suatu waktu. Misalnya seseorang merasa senang, sedih, takut, marah ataupun gejal-gejala yang lain setelah melihat, mendengar atau merasakan sesuatu. Menurut Chaplin (1972) perasaan adalah keadaan individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Sedangkan emosi adalah reaksi yang komplek yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Emosi lebih sering terjadi daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku bahkan hubungan dengan lingkungan kadang-kadang ikut terganggu.
Ada tiga sifat yang berhubungan dengan perasaan, yaitu:
1. Pada umumnya perasaan berkaitan dengan persepsi, dan merupakan reaksi terhadap stimulus yang mengenainya.
2. Perasaan besifat subjektif. Sehingga stimulus yang sama dapat mneimbulkan perasaan yang berbeda-beda pada individu yang dikenai stimulus tersebut.
3. Perasaan yang dialami inidvidu adalah perasaan senang dan tidak senang, namun tingkatannya dapat berbeda-beda.
Jika keadaan perasaan telah begitu kuat hingga hubungan dengan sekitar terganggu, hal telah menyangkut masalah emosi. Dalam keadaan emosi umumnya individu telah dipengaruhi sedemikian rupa sehingga individu kurang dapat menguasai diri lagi. Seseorang yang sedang mengalami emosi tidak lagi memperhatikan keadaan sekitar. Seringkali orang yang sedang emosi dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin dapat ia lakukan dalam keadaan normal.
Namun terkadang masih ada individu yang mampu mengontrol emosinya sehingga tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tertentu. Hal ini dikenal dengan istilah display rules artinya dalam hal mengendalikan emosi seorang individu dapat melakukan masking, modulation, dan simulation.
Masking, adalah keadaan seseroang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Artinya individu tersebut dalam keadaan emosi namun mampu menutupi atau menghambat emosi tersebut untuk keluar sehingga memberi perubahan dalam perilaku maupun melalui ekspresi kejasmanian. Contoh; seseorang yang mampu menyembunyikan kesedihannya setelah ditinggal oleh orang yang dicintai.
Modulation, adalah keadaan dimana individu tidak dapat secara tuntas meredam emosi dengan gejala kejasmaniannya, tetapi hanya mengurangi saja. Misalnya ketika sedih individu menangis (gejala kejasmanian) namun tangisnya tidak berlebihan.
Simulation, adalah keadaan inividu yang berpura-pura mengalami emosi dengan menampakkan gejala kejasmanian. Menurut Ekman dan Friesen (Carlson, 1987) mengenai display rules ini sangat dipengaruhi oleh budaya dimana individu tinggal.
7. Motif
Dorongan yang datang dari dalam diri inidvidu sehingga individu berprilaku disebut dengan motif. Motif berasal dari bahasa latin Movere yang berarti bergerak atau to move. (Branca, 1964). Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat di dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force. Beberapa hal yang ada di dalam motif antara lain:
1. Motif dimulai dengan sesuatu perbuatan tenaga dalam diri seseorang
2. Motif ditandai dengan dorongan afektif
3. Motif ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan. (Totok, 2001)
Motif sebagai pendorong tidak dapat berdiri sendiri, terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi motif. Faktor tersebut disebut dengan motivasi. Motivasi merupakan keadaan dari dalam diri individu yang mendorong perilaku kearah tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa motivasi mempunyai 3 aspek, yaitu:
1. Keadaan terdorong dalam diri individu, yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan.
2. Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini.
3. goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.
Pada umumnya motivasi mempunyai siklus melingkar, yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai motivasi berhenti. Tetapi akan kembali kekeadaan semula apabila ada sesuatu kebutuhan lagi.
Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada tahap pertama munculah keadaan pemicu (driving state). Dorongan ini muncul biasanya adalah karena berdasarkan kebutuhan biologis atau fisiologis. Drive ini timbul dapat karena organisme merasa kekurangan dalam kebutuhan (needs). Misalnya orang kurang tidur, maka ia butuh tidur, dan kebutuhan inilah yang mendorong ia untuk tidur.
Macam-macam motif:
1. Motif fisiologis.
Motif ini biasanya berakar pada keadaan jasmani, misalnya dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan udara segar. Motif ini disebut juga motif dasar karena berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensi individu sebagai makhluk hidup.
2. Motif social
Motif social merupakan motif yang kompleks dan merupakan sumber dari banyak perilaku atau perbuatan manusia. Dikatakan social karena motif ini dipelajari dalam kelompok social.
3. Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi
Motif eksplorasi adalah berkaitan dengan keinginan individu untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan. Motif kompetensi berkaitan dengan keinginan individu untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya dengan efektif. Sedangkan motif self aktualisasi adalah berkaitan dengan seberapa jauh individu bertindak atau berbuat untuk mengaktualisasikan dirinya.
Fantasi adalah kemampuan manusia di dalam membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan fantasi inividu akan mampu melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan. Ke keadaan-keadaan yang akan mendatang. Fantasi dapat terjadi secara:
1. Disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya. Misalnya seorang pelukis dan seorang pemahat yang sedang memikirkan untuk menciptakan sesuatu yang baru atas dasar fantasinya.
2. Secara tidak sadar, individu tidak menyadari jika ia telah dituntut untuk berfantasi. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak.
Dilihat dari segi munculnya fantasi dapat dibedakan ke dalam dua hal, yaitu fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dituntun atau yang dipimpin.
Fantasi yang menciptakan, yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasi yang menciptakan sesuatu; misalnya seorang desainer menciptakan pakaian atas dasar daya fantasinya.
Fantasi yang dituntut atau dipimpin, yaitu jenis fantasi yang munculnya adalah karena dituntun oleh pihak lain. Misalnya, seorang yang sedang menonton film dapat berfantasi mengikuti alur cerita yang ditontonnya.
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan jiwa yang lain lebih bersifat subjektif. Dalam hal individu berfantasi bayangan-bayangan atau tanggapan-tangapan yang telah ada pada diri inidividu sangat berperan penting. Bayangan persepsi berebda dengan bayangan fantasi. Bayangan persepsi berasal dari persepsi sedangkan bayangan fantasi dari fantasi.
Dengan berfantasi seseorang akan dapat mempunyai ide-ide baru yang terkadang di luar jangkauan akal sehat. Dengan berfantasi seseorang terkadang menjadi lebih kreatif. Namun fantasi juga mempunyai keburukan, yaitu akan membuat inividu meninggalkan alam nyata, dan masuk ke dalam alam fantasi. Fantasi juga dapat menimbulkan takhayul dan kedustaan jika tidak terkontrol.
2. Ingatan
Ingatan atau memori merupakan hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya. Dengan kata lain ingatan adalah kemampuan manusia di dalam memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang lampau.
Fungsi memasukkan (learning)
Bagaimana seseorang memperoleh pengalaman dapat dibedakan ke dalam dua cara, yaitu:
1. Dengan cara tidak sengaja. Yaitu apa yang dialami oleh individu dengan tidak sengaja dimasukkan ke dalam ingatannya. Contohnya pada anak-anak, bagaimana anak mengetahui bahwa gelas jika jatuh pecah. Hal ini diingat anak karena pengalamannya yang tidak sengaja pernah memecahkan gelas.
2. Dengan cara sengaja. Yaitu individu sengaja memasukkan pengelaman-pengalaman atau pengetahuan-pengetahuan. Misalnya seorang siswa yang dengan sengaja belajar untuk memahami dan mengingat pelajaran tertentu.
Individu berbeda di dalam mempelajari atau memasukkan materi. Ada inidvidu yang mempunyai ingatan luas, yaitu individu yang mampu menyimpan banyak materi pada suatu waktu tertentu, dan ada pula individu yang mempunyai ingatan yang sempit yaitu individu yang hanya mampu mempelajari atau memasukkan materi yang sedikit pada suatu waktu.
Fungsi menyimpan (retention)
Fungsi ini adalah bagaimana agar pengetahuan yang telah dipelajari atau yang telah dimasukkan itu dapat disimpan dengan baik. Sehingga pada suatu waktu dapat ditimbulkan kembali apabila dibutuhkan.
Sehubungan dengan masalah retensi ini juga muncul masalah kelupaan dan kedua hal ini sangat erat hubungannya dengan masalha interval atau jarak waktu antara memasukkan atau mempelajari sesuatu dan menimbulkan kembali apa yang dipelajari itu.
Mengenai interval dapat dibedakan antara:
1. Lama interval, yaitu berkaitan dengan lamanya waktu antara waktu pemasukan bahan sampai ditimbulkan kembali bahan itu. Lama interval berhubungan dengan kekuatan retensi. Makin lama intervalnya, makin kurang kuat retensinya, atau dengan kata lain kekuatan retensinya menurun.
2. Isi interval, yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang terdapat atau menngisi interval. Aktivitas-aktivitas yang mengisi interval akan merusak atau menggangu ingatan, sehingga kemungkinan individu mengalami kelupaan.
Fungsi menimbulkan kembali
Dalam menimbulkan kembali apa yang disimpan dalam ingatan dapat ditempuh dengan mengingat kembali, dan mengenal kembali.
Pada mengingat kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat tanpa dibantu adanya objek sebagai stimulus untuk dapat diingat kembali. Jadi dalam hal mengingat kembali individu tidak dibantu dengan adanya objek. Misalnya individu dapat mengingat kembali tentang ciri-ciri penjambret yang menjambret tasnya, sekalipun penjabretnya sudah tidak ada.
Pada mengenal kembali orang dapat menimbulkan kembali apa yang diingat atau yang telah pernah dipelajari dengan bantuan adanya objek yang harus diingat. Misalnya ada motor yang hilang dan motor tersebut telah diketemukan polisi, dan barang siapa yang motornya hilang harus melihat apakah motor tersebut miliknya atau bukan.
Karena dibantu oleh objek maka mengenal kembali akan lebih mudah dari pada mengingat kembali.
3. Belajar
Belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Ada beberapa hal yang perlu diketahui ketika kita mendengar istilah belajar, yaitu:
1. Belajar merupakan suatu proses, yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku. Artinya setelah belajar individu mengalami perubahan dalam perilakunya.
2. Perubahan perilaku tersebut dapat actual, yaitu yang nampak, tetapi dapat juga bersifat potensial, yang tidak tampak pada saat itu, tetapi akan nampak di lain kesempatan.
3. Perubahan yang disebabkan karena belajar bersifat relative permanent, yang artinya perubahan tersebut akan bertahan dalam waktu yang relative lama. Tetapi perubahan tersebut tetap dapat berubah lagi sebagai akibat dari belajar.
4. Perubahan perilaku baik yang actual maupun potensial merupakan hasil belajar, merupakan perubahan yang melalui pengalaman atau latihan.
Berdasarkan empat hal di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses. Prosesnya sendiri tidak tampak, yang tampak adalah hasil dari proses tersebut. Karena belajar merupakan suatu proses, maka dalam belajar ada masukan, yaitu yang akan diproses dan ada hasil dari proses tersebut.
4. Berfikir
Berfikir adalah aktifitas kognitif yang berujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan symbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya. Pendapat ini merupakan pendapat dari aliran kognitif. Sedangkan aliran Behaviorisme khususnya fungsionalis berpendapat bahwa berfikir adalah suatu hasil perbuatan sebagai penguatan dari stimulus dan respon.
Salah satu sifat berfikir adalah goal directed yaitu berfikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah atau untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Misalnya ketika seseorang ingin membeli televisi pasti sebelumnya pemilik toko akan menawarkan beberapa macam merk dengan berbagai macam harga. Sebelum pembeli memutuskan untuk membeli tentunya dia akan mempertimbangkan semua masukan dan pengalaman yang telah ia dapatkan kemudian baru memilih televisi mana yang akan dibeli.
5. Intelegensi
Secara umum hakekat intelegensi adalah:
- Kemampuan memahami sesuatu, makin tinggi intelegensi seseorang maka akan cepat dia memahami, menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan.
- Kemampuan berpendapat, makin cerdas seseorang, maka makin cepat pula mengambil ide dan langkah untuk penyelesaian masalah.
- Kemampuan control dan kritik, makin cerdas seseorang, maka makin tinggi pula daya control dan kritiknya terhadap apa yang diperbuat.
Terdapat dua pendekatan yang pokok di dalam memahami intelegensi. Yaitu:
1. Pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensi yang sering disebut dengan pendekatan faktor atau teori faktor. Menurutal itu sendiri, Spearman intelegensi itu mengandung dua macam faktor, yaitu (1). general ability atau general faktor (faktor G) dan (2). Special ability atau special faktor (faktor S)
2. Pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (Process-oriented theories). Teori ini mendasarkan kepada bagaimana proses intelektual di dalam pemecahan masalah.
6. Perasaan dan Emosi
Perasaan dan emosi umumnya disifatkan sebagai keadaan yang ada pada individu pada suatu waktu. Misalnya seseorang merasa senang, sedih, takut, marah ataupun gejal-gejala yang lain setelah melihat, mendengar atau merasakan sesuatu. Menurut Chaplin (1972) perasaan adalah keadaan individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Sedangkan emosi adalah reaksi yang komplek yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Emosi lebih sering terjadi daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku bahkan hubungan dengan lingkungan kadang-kadang ikut terganggu.
Ada tiga sifat yang berhubungan dengan perasaan, yaitu:
1. Pada umumnya perasaan berkaitan dengan persepsi, dan merupakan reaksi terhadap stimulus yang mengenainya.
2. Perasaan besifat subjektif. Sehingga stimulus yang sama dapat mneimbulkan perasaan yang berbeda-beda pada individu yang dikenai stimulus tersebut.
3. Perasaan yang dialami inidvidu adalah perasaan senang dan tidak senang, namun tingkatannya dapat berbeda-beda.
Jika keadaan perasaan telah begitu kuat hingga hubungan dengan sekitar terganggu, hal telah menyangkut masalah emosi. Dalam keadaan emosi umumnya individu telah dipengaruhi sedemikian rupa sehingga individu kurang dapat menguasai diri lagi. Seseorang yang sedang mengalami emosi tidak lagi memperhatikan keadaan sekitar. Seringkali orang yang sedang emosi dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin dapat ia lakukan dalam keadaan normal.
Namun terkadang masih ada individu yang mampu mengontrol emosinya sehingga tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tertentu. Hal ini dikenal dengan istilah display rules artinya dalam hal mengendalikan emosi seorang individu dapat melakukan masking, modulation, dan simulation.
Masking, adalah keadaan seseroang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Artinya individu tersebut dalam keadaan emosi namun mampu menutupi atau menghambat emosi tersebut untuk keluar sehingga memberi perubahan dalam perilaku maupun melalui ekspresi kejasmanian. Contoh; seseorang yang mampu menyembunyikan kesedihannya setelah ditinggal oleh orang yang dicintai.
Modulation, adalah keadaan dimana individu tidak dapat secara tuntas meredam emosi dengan gejala kejasmaniannya, tetapi hanya mengurangi saja. Misalnya ketika sedih individu menangis (gejala kejasmanian) namun tangisnya tidak berlebihan.
Simulation, adalah keadaan inividu yang berpura-pura mengalami emosi dengan menampakkan gejala kejasmanian. Menurut Ekman dan Friesen (Carlson, 1987) mengenai display rules ini sangat dipengaruhi oleh budaya dimana individu tinggal.
7. Motif
Dorongan yang datang dari dalam diri inidvidu sehingga individu berprilaku disebut dengan motif. Motif berasal dari bahasa latin Movere yang berarti bergerak atau to move. (Branca, 1964). Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat di dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force. Beberapa hal yang ada di dalam motif antara lain:
1. Motif dimulai dengan sesuatu perbuatan tenaga dalam diri seseorang
2. Motif ditandai dengan dorongan afektif
3. Motif ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan. (Totok, 2001)
Motif sebagai pendorong tidak dapat berdiri sendiri, terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi motif. Faktor tersebut disebut dengan motivasi. Motivasi merupakan keadaan dari dalam diri individu yang mendorong perilaku kearah tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa motivasi mempunyai 3 aspek, yaitu:
1. Keadaan terdorong dalam diri individu, yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan.
2. Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini.
3. goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.
Pada umumnya motivasi mempunyai siklus melingkar, yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai motivasi berhenti. Tetapi akan kembali kekeadaan semula apabila ada sesuatu kebutuhan lagi.
Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada tahap pertama munculah keadaan pemicu (driving state). Dorongan ini muncul biasanya adalah karena berdasarkan kebutuhan biologis atau fisiologis. Drive ini timbul dapat karena organisme merasa kekurangan dalam kebutuhan (needs). Misalnya orang kurang tidur, maka ia butuh tidur, dan kebutuhan inilah yang mendorong ia untuk tidur.
Macam-macam motif:
1. Motif fisiologis.
Motif ini biasanya berakar pada keadaan jasmani, misalnya dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan udara segar. Motif ini disebut juga motif dasar karena berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensi individu sebagai makhluk hidup.
2. Motif social
Motif social merupakan motif yang kompleks dan merupakan sumber dari banyak perilaku atau perbuatan manusia. Dikatakan social karena motif ini dipelajari dalam kelompok social.
3. Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi
Motif eksplorasi adalah berkaitan dengan keinginan individu untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan. Motif kompetensi berkaitan dengan keinginan individu untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya dengan efektif. Sedangkan motif self aktualisasi adalah berkaitan dengan seberapa jauh individu bertindak atau berbuat untuk mengaktualisasikan dirinya.
Review Psikologi Sosial
1. Persepsi Diri
• Dalam Psikologi Umum yang dimaksud dengan persepsi adalah suatu proses dimana stimulus yang diindera oleh individu dikumpulkan, kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera. (Davidoff, 1981).
• Persepsi Diri adalah: Pendapat pribadi individu terhadap lingkungannya sebagai hasil dari pemahaman individu terhadap stimulus yang diinderanya.
• Persepsi diri merupakan suatu proses meninterpretasikan objek eksternal yang ditangkap melalui indera sehingga proses tersebut kurang akurat dalam memberikan makna terhadap dirinya yang akan mempengaruhi hubungan interpersonal. Karena di dalam menjalin hubungan interpersonal tidak cukup hanya memaknai dirinya secara eksternal tetapi butuh proses yang lebih lanjut yaitu adalah proses evaluasi diri yang akan membentuk rasa percaya diri seseorang dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
• Ada dua pandangan yang bertentangan tentang bagaimana seseorang mempersepsi orang lain, yaitu: pendekatan Belajar dan pendekatan Gestalt. Pendekatan Belajar menyamaratakan informasi secara mekanis. Sedangkan pendekatan Gestalt membuat seseorang membentuk kesan yang lebih melekat dan berarti.
2. Atribusi Sosial
• Teori atribusi mengupas bagaimana manusia biasa menjelaskan peristiwa-peristiwa social. Atribusi sebab-akibat yang paling umum menjelaskan perilaku internal dan eksternal seseorang, stabil atau tidak stabil, dan dapat dikendalikan ataui tidak.
• Atribusi adalah pandangan individu terhadap sesuatu hal secara lebih mendalam berhubungan dengan sebab akibat kenapa seseorang tersebut berperilaku seperti itu.
• Teori Kelley menyatakan bahwa manusia mendasarkan atribusinya kepada 3 jenis informasi, yaitu: kejelasan (apakah situasi ini adalah satu-satunya situasi dimana individu melakukan hal tersebut), consensus (apakah orang lain melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama), konsistensi (apakah individu tersebut sering melakukan hal tesebut dalam situasi seperti ini).
• Atribusi social juga penting untuk melakukan hubungan interpersonal. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa orang lebih siap menjelaskan pengalaman sukses melalui atribusi internal dan kegagalan disebabkan factor eksternal.
3. Sikap
• Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu” tersebut bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok.
• Jika yang muncul adalah perasaan senang maka disebut sikap positif
• Jika Perasaan yang tidak senang disebut sikap negative
• Sikap dibagi ke dalam 3 domain:
• Affect adalah perasaan yang timbul, senang dan tidak senang.
• Behaviour, perilaku yang muncul mendekat atau menghindar
• Cognition, penilaian terhadap objek sikap, bagus atau tidak bagus
• Manusia bisa mempunyai bermacam-macam sikap terhadap satu objek
4. Hubungan Interpersonal
• Hubungan Interpersonal adalah bagaimana kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain melalui hubungan tatap muka yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dalam kegiatan itu terjadi suatu proses psikologis yang bisa merubah sikap, pendapat, atau perilaku orang yang sedang melakukan interaksi tersebut.
• Menurut William C. Schultz ada tiga dimensi hubungan interpersonal, yaitu:
1. Need of inclusion (perasaan sebagai anggota dari suatu kelompok), keinginan untuk menumbuhkan rasa memiliki.
* Undersocial: misalnya, minder, menarik diri, tertutup.
* Social : misalnya, tahu situasi dan kondisi.
* Oversocial : misalnya, over akting.
2. Need of control (kebutuhan untuk mendominasi dan dominasi)
* Abdicrat : ciri-cirinya penurut.
* Democrat : ciri-cirinya memiliki kemampuan yang kuat.
* Autocrat : ciri-cirinya mendominasi suatu kelompok.
3. Need of affection (kasih sayang), kebutuhan untuk menyukai dan disukai.
* Underpersonal : membuat jarak dengan orang lain, menolak bantuan orang lain.
* Personal : independent, tidak bergantung pada orang lain.
* Overpersonal : kerjasama individu yang kuat dengan orang lain.
• Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
• A. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
• B. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
• C. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
• Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
• D. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
5. Agresi dan Altruisme
• Agresi didefinisikan sebagai tindakan yang melukai orang lain.
• Tindakan agresif bisa antisocial, prososial, atau sekedar disetujui tergantung pada apakah tindakan itu bertentangan atau sejalan dengan norma social.
• Perasaan agresif atau rasa marah berbeda dengan perilaku agresif. Factor penentu rasa marah yang utama adalah serangan dan frustasi
• Teknik-teknik untuk mengurangi perilaku agresif:
- Hukuman dan pembalasan
Pemberian hukuman dan pembalasan bisa mengurangi terjadinya perilaku agresif. Namun, harus dilihat juga pada siapa dan kapan hukuman dan pembalasan ini diberikan, karena terbukti anak yang sering mendapat hukuman karena perilaku agresifnya akan menjadi lebih agresif. Hukuman dan pembalasan hanya efektif dilakukan dalam waktu sementara.
- Mengurangi Frustasi
Tekhnik ini dinilai lebih baik, yaitu dengan cara mengurangi kemungkinan terjadinya serangan dan frustasi. Menyamaratakan perlakuan adalah salah satu caranya.
- Hambatan yang dipelajari
Dengan cara mengontrol diri sendiri, mengendalikan perilaku agresif kita sendiri tanpa memperdulikan apakah kita di ancam akan dihukum atau tidak.
- Pengalihan
Mengekspresikan agresi terhadap sasaran pengganti. Pengen memukul seseorang dialihkan dengan memukul batang pisang.
- Katarsis
“pembersihan” atau pelepasan energy. Jika anda merasa agresif pelepasan terhadap keinginan tersebut dapat mengurangi intensitas perasaan. Marah terhadap seseorang yang mengklakson anda, kemudian ketika di lampu merah anda berada di belakang orang tersebut lalu anda balik mengklakson dapat mengurangi perasaan agresif.
• Altruisme dan perilaku prososial.
• Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan)
• Perilaku Prososial, mencakup perilaku yang lebih luas meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Beberapa perilaku prososial bukan merupakan tindakan altruistik.
• Para pakar sosiobiologi yakin bahwa kecenderungan untuk menolong orang lain merupakan bagian dari susunan biologis manusia. Sebaliknya, pandangan evolusi social menyatakan bahwa masyarkat menciptakan aturan tentang pemberian bantuan, yang meliputi norma tanggung jawab social, prinsip timbale balik, dan keadilan sosial.
• Anak mempelajari norma pemberian bantuan melalui penguatan dan peniruan. Mekanisme belajar sosial ini juga mempengaruhi perilaku pro sosial orang dewasa.
• Keputusan untuk menolong merupakan proses yang rumit. Orang yang akan menolong harus mempersepsi dibutuhkannya pertolongan, memikul tanggung jawab pribadi, mempertimbangkan untung rugi, dan memutuskan cara turun tangan.
6. Dinamika Kelompok
• Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
• Fungsi dinamika kelompok: membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup, memudahkan pekerjaan, mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban kerja yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai dengan kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian, dna terakhir menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan bermasyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.
• Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial serta ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada.
• Macam-Macam Kelompok
• Kelompok Primer, Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain.
• Kelompok Sekunder, Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.
• Kelompok Formal, Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.
• Kelompok Informal,Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati Misalnya: kelompok arisan
• Ciri-Ciri Kelompok: Suatu kelompok dapat dinamakan kelompok sosial, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama), 2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat). 3.Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing. 4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
• Pembentukan Kelompok, Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok. Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik) Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
• Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok. Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut .1. Kelebihan Kelompok, Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain. 2. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.
• Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.
7. Konflik
• Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
• Konflik dalam psikologi terjadi karena adanya motif-motif yang saling bertentangan. Ada 3 macam konflik: konflik mendekat-mendekat, konflik menjauh-menjauh, konflik mendekat-menjauh.
• Mengatasi konflik yang biasanya dapat berujung frustasi adalah: Bertindak eksplodif, melakukan kompensasi, dengan cara introsveksi, sublimasi, reaksi psikopatis (adalah reaksi individu yang sengaja melanggar aturan-aturan yang ada dalam mengatasi frustasinya), simbolisasi (mengalihkan keinginan dengan hal-hal yang dianggap mampu menghilangkan frustasi.benda-benda ini disebut dengan subsitusi. Orang yang gak bisa merokok menggit-gigit korek)
• Dalam Psikologi Umum yang dimaksud dengan persepsi adalah suatu proses dimana stimulus yang diindera oleh individu dikumpulkan, kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera. (Davidoff, 1981).
• Persepsi Diri adalah: Pendapat pribadi individu terhadap lingkungannya sebagai hasil dari pemahaman individu terhadap stimulus yang diinderanya.
• Persepsi diri merupakan suatu proses meninterpretasikan objek eksternal yang ditangkap melalui indera sehingga proses tersebut kurang akurat dalam memberikan makna terhadap dirinya yang akan mempengaruhi hubungan interpersonal. Karena di dalam menjalin hubungan interpersonal tidak cukup hanya memaknai dirinya secara eksternal tetapi butuh proses yang lebih lanjut yaitu adalah proses evaluasi diri yang akan membentuk rasa percaya diri seseorang dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
• Ada dua pandangan yang bertentangan tentang bagaimana seseorang mempersepsi orang lain, yaitu: pendekatan Belajar dan pendekatan Gestalt. Pendekatan Belajar menyamaratakan informasi secara mekanis. Sedangkan pendekatan Gestalt membuat seseorang membentuk kesan yang lebih melekat dan berarti.
2. Atribusi Sosial
• Teori atribusi mengupas bagaimana manusia biasa menjelaskan peristiwa-peristiwa social. Atribusi sebab-akibat yang paling umum menjelaskan perilaku internal dan eksternal seseorang, stabil atau tidak stabil, dan dapat dikendalikan ataui tidak.
• Atribusi adalah pandangan individu terhadap sesuatu hal secara lebih mendalam berhubungan dengan sebab akibat kenapa seseorang tersebut berperilaku seperti itu.
• Teori Kelley menyatakan bahwa manusia mendasarkan atribusinya kepada 3 jenis informasi, yaitu: kejelasan (apakah situasi ini adalah satu-satunya situasi dimana individu melakukan hal tersebut), consensus (apakah orang lain melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama), konsistensi (apakah individu tersebut sering melakukan hal tesebut dalam situasi seperti ini).
• Atribusi social juga penting untuk melakukan hubungan interpersonal. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa orang lebih siap menjelaskan pengalaman sukses melalui atribusi internal dan kegagalan disebabkan factor eksternal.
3. Sikap
• Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu” tersebut bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok.
• Jika yang muncul adalah perasaan senang maka disebut sikap positif
• Jika Perasaan yang tidak senang disebut sikap negative
• Sikap dibagi ke dalam 3 domain:
• Affect adalah perasaan yang timbul, senang dan tidak senang.
• Behaviour, perilaku yang muncul mendekat atau menghindar
• Cognition, penilaian terhadap objek sikap, bagus atau tidak bagus
• Manusia bisa mempunyai bermacam-macam sikap terhadap satu objek
4. Hubungan Interpersonal
• Hubungan Interpersonal adalah bagaimana kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain melalui hubungan tatap muka yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dalam kegiatan itu terjadi suatu proses psikologis yang bisa merubah sikap, pendapat, atau perilaku orang yang sedang melakukan interaksi tersebut.
• Menurut William C. Schultz ada tiga dimensi hubungan interpersonal, yaitu:
1. Need of inclusion (perasaan sebagai anggota dari suatu kelompok), keinginan untuk menumbuhkan rasa memiliki.
* Undersocial: misalnya, minder, menarik diri, tertutup.
* Social : misalnya, tahu situasi dan kondisi.
* Oversocial : misalnya, over akting.
2. Need of control (kebutuhan untuk mendominasi dan dominasi)
* Abdicrat : ciri-cirinya penurut.
* Democrat : ciri-cirinya memiliki kemampuan yang kuat.
* Autocrat : ciri-cirinya mendominasi suatu kelompok.
3. Need of affection (kasih sayang), kebutuhan untuk menyukai dan disukai.
* Underpersonal : membuat jarak dengan orang lain, menolak bantuan orang lain.
* Personal : independent, tidak bergantung pada orang lain.
* Overpersonal : kerjasama individu yang kuat dengan orang lain.
• Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
• A. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
• B. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
• C. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
• Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
• D. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
5. Agresi dan Altruisme
• Agresi didefinisikan sebagai tindakan yang melukai orang lain.
• Tindakan agresif bisa antisocial, prososial, atau sekedar disetujui tergantung pada apakah tindakan itu bertentangan atau sejalan dengan norma social.
• Perasaan agresif atau rasa marah berbeda dengan perilaku agresif. Factor penentu rasa marah yang utama adalah serangan dan frustasi
• Teknik-teknik untuk mengurangi perilaku agresif:
- Hukuman dan pembalasan
Pemberian hukuman dan pembalasan bisa mengurangi terjadinya perilaku agresif. Namun, harus dilihat juga pada siapa dan kapan hukuman dan pembalasan ini diberikan, karena terbukti anak yang sering mendapat hukuman karena perilaku agresifnya akan menjadi lebih agresif. Hukuman dan pembalasan hanya efektif dilakukan dalam waktu sementara.
- Mengurangi Frustasi
Tekhnik ini dinilai lebih baik, yaitu dengan cara mengurangi kemungkinan terjadinya serangan dan frustasi. Menyamaratakan perlakuan adalah salah satu caranya.
- Hambatan yang dipelajari
Dengan cara mengontrol diri sendiri, mengendalikan perilaku agresif kita sendiri tanpa memperdulikan apakah kita di ancam akan dihukum atau tidak.
- Pengalihan
Mengekspresikan agresi terhadap sasaran pengganti. Pengen memukul seseorang dialihkan dengan memukul batang pisang.
- Katarsis
“pembersihan” atau pelepasan energy. Jika anda merasa agresif pelepasan terhadap keinginan tersebut dapat mengurangi intensitas perasaan. Marah terhadap seseorang yang mengklakson anda, kemudian ketika di lampu merah anda berada di belakang orang tersebut lalu anda balik mengklakson dapat mengurangi perasaan agresif.
• Altruisme dan perilaku prososial.
• Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan)
• Perilaku Prososial, mencakup perilaku yang lebih luas meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Beberapa perilaku prososial bukan merupakan tindakan altruistik.
• Para pakar sosiobiologi yakin bahwa kecenderungan untuk menolong orang lain merupakan bagian dari susunan biologis manusia. Sebaliknya, pandangan evolusi social menyatakan bahwa masyarkat menciptakan aturan tentang pemberian bantuan, yang meliputi norma tanggung jawab social, prinsip timbale balik, dan keadilan sosial.
• Anak mempelajari norma pemberian bantuan melalui penguatan dan peniruan. Mekanisme belajar sosial ini juga mempengaruhi perilaku pro sosial orang dewasa.
• Keputusan untuk menolong merupakan proses yang rumit. Orang yang akan menolong harus mempersepsi dibutuhkannya pertolongan, memikul tanggung jawab pribadi, mempertimbangkan untung rugi, dan memutuskan cara turun tangan.
6. Dinamika Kelompok
• Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
• Fungsi dinamika kelompok: membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup, memudahkan pekerjaan, mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban kerja yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai dengan kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian, dna terakhir menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan bermasyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.
• Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial serta ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada.
• Macam-Macam Kelompok
• Kelompok Primer, Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan. Sedangkan menurut Goerge Homans kelompok primer merupakan sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang sering berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara. Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain.
• Kelompok Sekunder, Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.
• Kelompok Formal, Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.
• Kelompok Informal,Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati Misalnya: kelompok arisan
• Ciri-Ciri Kelompok: Suatu kelompok dapat dinamakan kelompok sosial, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama), 2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat). 3.Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing. 4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
• Pembentukan Kelompok, Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok. Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota (siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan (konflik) Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
• Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok. Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut .1. Kelebihan Kelompok, Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain. 2. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok.
• Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.
7. Konflik
• Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
• Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
• Konflik dalam psikologi terjadi karena adanya motif-motif yang saling bertentangan. Ada 3 macam konflik: konflik mendekat-mendekat, konflik menjauh-menjauh, konflik mendekat-menjauh.
• Mengatasi konflik yang biasanya dapat berujung frustasi adalah: Bertindak eksplodif, melakukan kompensasi, dengan cara introsveksi, sublimasi, reaksi psikopatis (adalah reaksi individu yang sengaja melanggar aturan-aturan yang ada dalam mengatasi frustasinya), simbolisasi (mengalihkan keinginan dengan hal-hal yang dianggap mampu menghilangkan frustasi.benda-benda ini disebut dengan subsitusi. Orang yang gak bisa merokok menggit-gigit korek)
Senin, 12 Desember 2011
Dakwah-BKI V (Ganjil 11-12)
Nama-Nama Mahasiswa
Eka Budianta
Ahmad Fauzi Adha
Nurul Saadi
Survida
Dedi Kristina Serli
Yunita Susanti
Lita Haryani
Mela Sari
Niki Serimawati
Ade Putri Asyura
Ani Sulastri
Ery Maryoni
Henie Septiani
Hisen Trawati
Ardhi Riansyah
Ike Angga Prianto
Ana Esta
Nade Amelinda
Mely Ulpa H
Eni Kartika Sari
Eka Budianta
Ahmad Fauzi Adha
Nurul Saadi
Survida
Dedi Kristina Serli
Yunita Susanti
Lita Haryani
Mela Sari
Niki Serimawati
Ade Putri Asyura
Ani Sulastri
Ery Maryoni
Henie Septiani
Hisen Trawati
Ardhi Riansyah
Ike Angga Prianto
Ana Esta
Nade Amelinda
Mely Ulpa H
Eni Kartika Sari
Tarbiyah-PBA III (Ganjil 11-12)
Nama-Nama Mahasiswa
Abdurrahman Al-Zahid
Nurhariyanto
Yusra
Maike Ripantri
Sarloby
Debi Afriansyah
Novi Erwan
Heri Marliansyah
Sudexa Priomita
Zainal Arifin
Agusnadi
Idianto
Riswan Afrido
Ani Husnaini
Nurlela
Ari Fatayati
Hetti Hoisi
Nani Zahara
Mirnawati
Mika Anggelina
Mardalena
Wahyu Saputri
Herla Fadila
Lia Saputri
Nurmala Sari
Afriani
Emelda A
Ade Ghufira
Nurul Aminin
Leni Gustini
David Herdiantomi
Syarifaa Hanum
Abdurrahman Al-Zahid
Nurhariyanto
Yusra
Maike Ripantri
Sarloby
Debi Afriansyah
Novi Erwan
Heri Marliansyah
Sudexa Priomita
Zainal Arifin
Agusnadi
Idianto
Riswan Afrido
Ani Husnaini
Nurlela
Ari Fatayati
Hetti Hoisi
Nani Zahara
Mirnawati
Mika Anggelina
Mardalena
Wahyu Saputri
Herla Fadila
Lia Saputri
Nurmala Sari
Afriani
Emelda A
Ade Ghufira
Nurul Aminin
Leni Gustini
David Herdiantomi
Syarifaa Hanum
Tarbiyah-PGMI Z4 (Ganjil 11-12)
Nama-nama Mahasiswa
Yubi Juhadi
Dwi Utomo
Siti Asiyah Saragih
Yossi Chaniago
Intan Purnama Sari
Rita Suriani
Emilda Rahmalia Putri
Selvi Yulizah
Uci Saputri
Ressi Cornela
Selvy Suryani
Yuliza Novitasari
Nurtina
Sri Astuti
Serli Nopita Sari
Yulia Hasrin
Ade Irma
Uriana
Liana Rahmawita
Dewi Wulan Sari
Nurbaiti
Aang Muhammad Syah
Tomi Jayanti
Yubi Juhadi
Dwi Utomo
Siti Asiyah Saragih
Yossi Chaniago
Intan Purnama Sari
Rita Suriani
Emilda Rahmalia Putri
Selvi Yulizah
Uci Saputri
Ressi Cornela
Selvy Suryani
Yuliza Novitasari
Nurtina
Sri Astuti
Serli Nopita Sari
Yulia Hasrin
Ade Irma
Uriana
Liana Rahmawita
Dewi Wulan Sari
Nurbaiti
Aang Muhammad Syah
Tomi Jayanti
Tarbiyah-PGMI 1c (Ganjil 11-12)
Nama-Nama Mahasisa
Anisti
Depi Yulyanti
Dimisti Indah Putri
Erlinda Julianti
Eva Aprianti
Evandri Yeneo
Hinita Putri
Ice Triani
Ilia Fuspita
Jida Holika
Kuntum Khaira Fadli
Leni Puspita Sari
Marlena Fitri
M.Alfarisi
Nova Efriani
Wipi Waris Soleha
Yeni Winasih
Yogi Afriawan
Surlili Hayati
Putri Yenti
Riana Eka Putri
Roziman
Epot Adiputra
Siti nurida
Anisti
Depi Yulyanti
Dimisti Indah Putri
Erlinda Julianti
Eva Aprianti
Evandri Yeneo
Hinita Putri
Ice Triani
Ilia Fuspita
Jida Holika
Kuntum Khaira Fadli
Leni Puspita Sari
Marlena Fitri
M.Alfarisi
Nova Efriani
Wipi Waris Soleha
Yeni Winasih
Yogi Afriawan
Surlili Hayati
Putri Yenti
Riana Eka Putri
Roziman
Epot Adiputra
Siti nurida
Tarbiyah-PBA 1 (Ganjil 11-12)
Nama-nama Mahasiswa
Siti Aminah
Rosdiana Fadhilah
Selly Herdiana
Eka Meilanti
Gandawati
Lena Mariani
Deka Nurbika
Zeni Purwanto
Laela Badriah
Desy Ardilah
Lilian Mardalena
Arniati
Peti Pursila
Tri Handayani
Tri Wulandari
Melisa Apriani
Nurkhasanah
Zikri
Samsul Hadi
Wahyu Hidayat
Putri Deta
Siti Aminah
Rosdiana Fadhilah
Selly Herdiana
Eka Meilanti
Gandawati
Lena Mariani
Deka Nurbika
Zeni Purwanto
Laela Badriah
Desy Ardilah
Lilian Mardalena
Arniati
Peti Pursila
Tri Handayani
Tri Wulandari
Melisa Apriani
Nurkhasanah
Zikri
Samsul Hadi
Wahyu Hidayat
Putri Deta
Tarbiyah-PAI 1F (Ganjil 11-12)
Nama-nama Mahasiswa
Akson Ahmadi Irfan
Encep Syaifullah
Mery Susanti
Risma Fathonah
Elia
Lissa Irlina Sari
Ade Kartika Sari
Rini Riyanti
Radda Niati
Yummi Januannitami
Yulia Ekasari
Cici Kurniasih
Uswatun Hasanah
Iman Teguh
Rendi Nugraha
Masuandi
karnisan
Yuyun Wahyudi
Tri Yanti
Carolin Ismaini
Aristianah
Selvi Apriani
Lika Putri Ili
Rosmayanti
Nesti Mei Putri
Akson Ahmadi Irfan
Encep Syaifullah
Mery Susanti
Risma Fathonah
Elia
Lissa Irlina Sari
Ade Kartika Sari
Rini Riyanti
Radda Niati
Yummi Januannitami
Yulia Ekasari
Cici Kurniasih
Uswatun Hasanah
Iman Teguh
Rendi Nugraha
Masuandi
karnisan
Yuyun Wahyudi
Tri Yanti
Carolin Ismaini
Aristianah
Selvi Apriani
Lika Putri Ili
Rosmayanti
Nesti Mei Putri
Tarbiyah-PAI 1G (Ganjil 11-12)
Nama-nama Mahasiswa
Marina Febriani
Yunita Puji Astuti
Reni Puspita Sari
Mariza Yupita Sari
Mitri Wulandari
Teti Marisa
Fitri Mayang Sari
Tri Komala Sari
Winda Lestari
To'in Zakaria
Ismail
Citra Sriwijaya
Ice Trisnawati
Yenny Rohmalia
Tina Trisnawati
Yuniza Kheristiana
Ani Susanti
Siti Aminah
Nurhidayah
Ien Trisna Ayu
Umi Khairi
Ahmad Yusron Al-Asna
Khalidun
Dekayer M.Saleh
Marina Febriani
Yunita Puji Astuti
Reni Puspita Sari
Mariza Yupita Sari
Mitri Wulandari
Teti Marisa
Fitri Mayang Sari
Tri Komala Sari
Winda Lestari
To'in Zakaria
Ismail
Citra Sriwijaya
Ice Trisnawati
Yenny Rohmalia
Tina Trisnawati
Yuniza Kheristiana
Ani Susanti
Siti Aminah
Nurhidayah
Ien Trisna Ayu
Umi Khairi
Ahmad Yusron Al-Asna
Khalidun
Dekayer M.Saleh
Dakwah-BKI 1
Mahasiswa BKI 1
Ade Akhmad Puji Widodo
Ade Martono Saputra
Alven Sawiri
Angga Prasetya
Anita Selvia
Apria Lulika
Asengki
Betaria
Dadang Kurniawan
Dasri Adiyar
Desi Nopita Sari
Desy Hariyani
Dewi Fitriyanti
Efrida Susanti
Elgen
Fadilah
Fakhrurahman
Febri Frandiko
Febri Al Faizal
Fera Noviani
Fidhia Andani
Fitri Yani
Gita Silviana
Hetty Kustillah
Himatul Hasanah
Ita Lasmiana
Ade Akhmad Puji Widodo
Ade Martono Saputra
Alven Sawiri
Angga Prasetya
Anita Selvia
Apria Lulika
Asengki
Betaria
Dadang Kurniawan
Dasri Adiyar
Desi Nopita Sari
Desy Hariyani
Dewi Fitriyanti
Efrida Susanti
Elgen
Fadilah
Fakhrurahman
Febri Frandiko
Febri Al Faizal
Fera Noviani
Fidhia Andani
Fitri Yani
Gita Silviana
Hetty Kustillah
Himatul Hasanah
Ita Lasmiana
Langganan:
Komentar (Atom)

